Minggu, 06 November 2011

sunny happiness

Ringkasan

Mike He (Xiang Yun Jie) bertindak sebagai orang kaya yang bercerai sekali, dan tanpa sadar memiliki putra berusia delapan tahun. Janine Chang (Fang Yong Yong) bertindak sebagai yatim piatu dari panti asuhan. kisah cinta mereka berawal dari 'perkawinan palsu'.

episode 1/part1


episode 1/part2


episode 1/part3


episode 1/part4


Judul lain : The Sunniest Day Of Happiness/Sunshine Day
Kategori : Drama romantis
Episode : 25
Produser : Chen Yan Ping
Pemain:
Mike He sebagai Xiang Yun Jie

Janine Chang sebagai Fang Yong Yong

Li Yi Feng sebagai Xiang Yun Chao

Zhou Zi Han sebagai Wang Lan

Li Zhi Nan sebagai Huang Si Nan

Li Jin Ming sebagai Kong Xin Jie



Episode 1

Cerita ini dimulai dari seorang gadis bernama Fang Yong Yong yang nekat menerjang hujan deras demi tidak datang terlambat di tempat kerjanya. Dengan menggunakan jas hujan, ia mengayuh cepat pedal sepedanya.
Di saat yang bersamaan juga. Seorang pria bernama Xiang Yun Jie, di dalam mobilnya mengeluhkan jalanan macet. Ia pun juga tidak mau terlambat bekerja. Terpaksa Yun Jie memutar jalan.
Yong Yong menghentikan laju sepedanya saat melihat seorang Nenek tengah memunguti jeruk-jeruknya yang berhamburan di jalanan di tengah hujan deras.
Di saat yang bersamaan lagi. Yun Jie hendak mengambil ponselnya, namun sayangnya ponselnya terjatuh. Satu tangannya merogoh-rogoh ponselnya yang terjatuh ke bawah. Satu tangannya masih memegang kemudi setir. Ponselnya berhasil diraihnya. Tapi… Mobil yang dikemudikan nyaris menabrak seorang gadis yang tengah berdiri di tengah jalan.
Yong Yong kaget dan tak dapat berpikir apa-apa ketika sebuah mobil sedang meluncur ke arahnya.
Untuk menghindari tabrakan itu, mobil membanting setir ke kiri dan menabrak sepeda Yong Yong yang sedang terparkir rapi.

Hujan deras reda, berganti dengan langit cerah.
Yong Yong lega karena mobilnya tak jadi menabraknya. Tapi sepedanya??? Rusak!
Yong Yong meminta ganti rugi atas kerusakan sepedanya. Justru Yun Jie malah menyerangnya balik dengan menyalahkan gadis itu yang berjongkok di tengah jalan.
Apa Yong Yong tidak melihatnya? Kap depan mobil Yun Jie rusak gara-gara membentur sepedanya, tapi ia tidak menuntut gadis itu. Malah ia merasa untung karena gadis yang nyaris ditabraknya tidak terluka. Dengan begitu tidak ada yang perlu dilaporkan ke kantor polisi.
Yun Jie tidak mau kejadian ini memperlambat waktu kerjanya. Ia naik ke dalam mobilnya.
Dasar Yong Yong. Ia duduk di belakang mobil Yun Jie dengan melipat kedua tangannya di dada. Ia tidak akan membiarkan pria itu kabur begitu saja sebelum mengganti kerusakan sepedanya.
Baiklah. Baiklah. Yun Jie menyerah juga. Ia membawa gadis itu ke toko sepeda dan membiarkan gadis itu memilih sepeda sesukanya.

Xiang Yun Jie merupakan CEO dari hotel. Ia menginginkan segalanya bersih. Ia akan marah-marah jika ruangan kerjanya belum bersih. Selain itu, ia tidak suka saat ia berada di dalam ruangan kerjanya, dan seorang pelayan datang untuk membersihkannya. Jadi ia ia ngin ruangannya dibersihkan selagi ia tidak ada di tempat.
Masalahnya, CEO tampan ini selalu sibuk di ruangannya sampai melembur, jadinya pelayan yang bertugas membersihkan ruangannya tidak ada yang berani masuk.

Fang Yong Yong bekerja sebagai pelayan kebersihan di sebuah hotel. Gara-gara kejadian tadi ia terlambat datang bekerja. Ia takut akan dipecat, eh ia bukannya dipecat tapi ditugaskan di tempat yang baru. Tugas barunya adalah membersihkan ruangan kerja CEO mereka yang baru.
CEO baru mereka terkenal dingin dan super bersih. Standar kebersihannya sangat tinggi, bahkan terlalu tinggi. Baru seminggu ia menjabat CEO di hotel ini, ia sudah memecat satu pelayannya yang tidak bersih dalam membersihkan ruangan kerjanya.

Di beranda hotel, Yun Jie bertemu dengan teman lamanya, Ming Dao.
Yun Jie mengejek kedatangan Ming Dao dan Annie Chen―disini mereka menjadi cameo sepasang suami-istri yang baru pulang dari bulan madu―yang hendak pamer di hadapannya. Yun Jie mengajak mereka untuk mengobrol di ruangan kerjanya.
Di dalam lift, Yun Jie mengeluhkan keadaan lantai liftnya yang kotor bekas es batu yang berhamburan.
“Siapa petugas kebersihan yang membersihkan lift ini?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Tombol lift tidak menyala. Pintu lift pun tidak bis dibuka. Ming Dao dan Annie Chen malah tenang-tenang saja. Akhirnya pintu lift terbuka juga. Mata Yun Jie melebar ketika melihat seorang gadis yang dikenalnya berdiri di depan lift sambil membawa lap pel dan ember.
“Apa kau yang bertanggung jawab di lift ini?”
Gadis itu balik bertanya, “Apa kau tamu di hotel ini?”
“Aku kerja disini,” sahut Yun Jie.
“Oh, jadi kau rekan sekerja. Bisa kau keluar, aku mau membersihkannya dulu.”
Yun Jie mengomeli gadis itu yang sama sekali tidak bisa bekerja. Masa membiarkan minuman tumpah tanpa membersihkannya dulu. Gadis itu tidak terima juga. Ia membela dirinya dengan mengatakan, ia juga harus mengambil lap pel dulu.
Gadis itu sama sekali tidak tahu jika pria yang berdiri di ambang pintu lift itu adalah CEO mereka. Dengan penuh kepercayaan dirinya ia mengatakan jika Bos mereka sangat pemarah dan tidak suka melihat hal-hal yang kotor seperti itu. Pecinta kebersihan sejati.
Ming Dao dan Annie Chen yang berdiri di belakang Yun Jie spontan terkekeh geli mendengarnya.
“CEO,” panggil seorang wanita tiba-tiba.
“Ada apa?” sahut Yun Jie.
“Ada urusan yang memerlukan bantuan Anda,” ujar wanita itu memberitahukan.
“CEO?” lirih gadis itu bergantian melihat wanita itu, lalu ke pria di depannya. “Jadi kau benaran adalah CEO baru kami?” kaget gadis itu yang tak lain adalah Yong Yong.
Ming Dao dan Annie Chen makin terkekeh geli.

Setelah Yun Jie mengantar Ming Dao dan Annie Chen ke depan beranda hotel, ia kembali ke ruangan kerjanya. Matanya menangkap sosok Yong Yong sedang duduk sambil makan di teras samping ruangan kerjanya.
Betapa terkejutnya Yong Yong dihampiri oleh CEO. Saking terkejutnya ia berlonjak berdiri dan tanpa sengaja menjatuhkan tutup kotak makanannya.
“CEO,” sapa Yong Yong takut-takut.
Yun Jie melihat sebutir nasi di dekat dagu Yong Yong. Yun Jie pun bergumam dalam hati, kenapa makan nasi saja bisa sampai ke wajah?
Yong Yong juga bergumam dalam hatinya ketika melihat CEO-nya terus menatapnya lekat, Si Bos dingin ini kenapa terus melihatku seperti itu? Sebenarnya dia mau mengatakan apa?
Yun Jie menunjuk sebutir nasi di dagu Yong Yong. Barulah Yong Yong tersadar dan cepat-cepat mengambil butir nasi di dagunya dan memasukkannya cepat ke dalam mulutnya.
Yun Jie mengingatkan Yong Yong tentang pekerjaannya. Seorang petugas kebersihan harus membersihkan dengan baik. Kali ini ia mengampuni Yong Yong dan tidak memecatnya. Jika lain kali kejadian seperti itu tadi terulang, maka ia akan memecat Yong Yong langsung. Yang diinginkan oleh Yun Jie adalah kondisi kerja yang bersih.

Yong Yong datang ke panti asuhan dengan membawa kue yang dibuatnya. Meskipun ia sudah lama meninggalkan panti asuhan ini―karena ia pernah menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan―tapi ia sering mengunjunginya. Sekadar untuk melepas rindu.
Panti asuhan itu tidak akan bertahan lama lagi. Pemilik rumah akan segera menjual tanahnya pada perusahaan yang akan menjadikan tanah ini menjadi sebuah mall.
Lalu bagaimana dengan anak-anak???
Anak-anak akan dikirimkan ke panti asuhan yang berbeda. Sangat menyedihkan…

Di rumah.
Yong Yong tinggal bersama ibu tiri dan dua kakak tirinya. Kehidupannya bagaikan cerita dalam Cinderella. Dimana ia melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju dan memasak. Bedanya, keluarga tiri Yong Yong sangat baik terhadapnya.
Kakak pertama Yong Yong adalah Jing Jing, wanita yang bertubuh kurus. Sangat cerewet dan sok kecantikan. Cita-cita ingin menikah dengan orang kaya. Mengidamkan pria seperti yang terdapat pada cover sebuah majalah ―Xiang Yun Jie― untuk menjadi suaminya. Saat ia tahu Xiang Yun Jie adalah atasannya Yong Yong, ia memohon agar membantunya berkenalan dengan Yun Jie.
Kakak kedua Yong Yong adalah Wen Wen, wanita yang bertubuh gemuk. Doyan makan, lemot, dan suka keceplosan dalam bicaranya. Baru saja ia dipecat dari pekerjaannya.
Berhubung Wen Wen sudah dipecat dan pendapatan keluarga mereka otomatis berkurang. Ibu tiri meminta Yong Yong untuk mencari tambahan kerja lagi. Yong Yong mana sanggup? Kerjaan di hotel saja sudah menyita banyak waktunya.

Saat Yong Yong sedang membersihkan ruangan kerja Yun Jie. Tiba-tiba telinganya mendengar suara derap langkah kaki menuju ke ruangan kerja. Pasti itu CEO. CEO pernah berkata, ia tidak suka ada petugas kebersihan yang sedang membersihkan di depan matanya. Yang diinginkan oleh CEO adalah hasil dari kerja yang sudah bersih.
Yong Yong tidak mau ambil resiko. Ia mengumpet saja di teras ruangan, merapatkan tubuhnya di jendela yang tertutup dengan korden.
Yun Jie masuk bersama asistennya. Yun Jie marah karena proposal perencanaannya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Asistennya mengerti dan pamit pergi.
“Hal pertama yang kubenci adalah orang yang sedang bersembunyi,” kata Yun Jie yang pas masuk tadi melihat bayangan orang di balik jendela.
Yong Yong kaget. Apa jangan-jangan dia ketahuan? Gawat.
“Hal kedua yang kubenci adalah orang yang mencuri dengar,” lanjut Yun Jie. “Bodoh sekali. Sudah mencuri dengar, ketahuan lagi,” sindirnya ke Yong Yong.
Yong Yong makin merapat takut.
“Hal ketiga yang kubenci adalah orang yang ingin mengelabui orang lain jika dia tidak terlihat,” Yun Jie melanjutkan kembali.
Haduh, Yong Yong tak bisa berkutik lagi.
Tepat Yong Yong hendak keluar dari persembunyiannya, datang seseorang yang masuk ke dalam ruangan CEO. Seseorang itu adalah Xiang Yun Chao, adik laki-laki Yun Jie. Yun Jie meminta adiknya keluar dulu dari ruangannya, karena masih ada sedikit hal yang perlu dibereskannya.
“Hal keempat yang kubenci adalah tidak tahu kapan maju dan mundur? Pikirkan itu baik-baik,” senyum Yun Jie beranjak keluar dari ruangannya.

Yong Yong mengintai ke ruangan kerja Yun Jie. Sudah jam 12 malam, tapi Yun Jie belum keluar-keluar juga dari ruangannya. Ah, dia kan juga mau pulang.
Terdengar bunyi pintu dibuka dari ruangan Yun Jie. Lekas-lekas Yong Yong bersembunyi di balik pilar dinding dengan memegang kemoceng.
Yun Jie melihatnya, namun ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Tersenyum ringan.

Pagi-pagi, Yong Yong disuruh menghadap ke ruangan kerja CEO. Ada apa ini?
“Kau memberikan kesan yang mendalam,” ujar Yun Jie.
“Apa?” Yong Yong tidak mengerti.
“Setelah kau memberikan kesan yang mendalam padaku. Tahukah kau? Ada dua makna yang terkandung di dalamnya. Makna yang pertama adalah selalu diingat di dalam hati. Makna yang satunya adalah ingin menghindarinya.”
“Maaf, CEO. Saya tidak mengerti apa yang CEO katakan,” Yong Yong mencoba untuk mencerna kata-kata CEO-nya tapi tetap tidak mengerti.
Yun Jie beranjak dari duduknya dan menghampiri Yong Yong. Yong Yong melangkah mundur beberapa langkah. Takut.
“Apa kau begitu mencintai aku?” tanya Yun Jie tanpa basa-basi. “Tidak bisa makan dan minum. Setiap malam tidak bisa tidur.”
“Apa yang kau bicarakan?” bingung Yong Yong, tidak mengerti.

Episode 2
“Kau memberikan kesan yang mendalam,” ujar Yun Jie.
“Apa?” Yong Yong tidak mengerti.
“Setelah kau memberikan kesan yang mendalam padaku. Tahukah kau? Ada dua makna yang terkandung di dalamnya. Makna yang pertama adalah selalu diingat di dalam hati. Makna yang satunya adalah ingin menghindarinya.”
“Maaf, CEO. Saya tidak mengerti apa yang CEO katakan,” Yong Yong mencoba untuk mencerna kata-kata CEO-nya tapi tetap tidak mengerti.
Yun Jie beranjak dari duduknya dan menghampiri Yong Yong. Yong Yong melangkah mundur beberapa langkah. Takut.
“Apa kau begitu mencintai aku?” tanya Yun Jie tanpa basa-basi. “Tidak bisa makan dan minum. Setiap malam tidak bisa tidur.”
“Apa yang kau bicarakan?” bingung Yong Yong, tidak mengerti.
Yun Jie memperlihatkan surat cinta pink ke hadapan Yong Yong. Di amplopnya tertulis, CEO yang tercinta. Yong Yong merasa bukan ia yang menulis surat cinta itu. Ia penasaran dengan isinya dan membacanya. Jelas-jelas ini bukan tulisannya. Surat cinta ini tentunya bukan dia yang menulisnya.
Bagaimana bisa Yun Jie berpikiran jika Yong Yong yang menulisnya?
Yun Jie mengeluarkan kardus ke atas meja. Menunjukkan kotak makan siang milik Yong Yong yang waktu itu dibawanya saat makan siang.
“Makanan yang kau buat tidak sesuai dengan seleraku,” kelakar Yun Jie.
Kotak makannya memang kepunyaan Yong Yong. Tapi, makanannya bukan dia yang membuatnya.
“Semua barang-barang ini aku tidak membutuhkannya,” lanjut Yun Jie yang mengarah ke kardus di atas meja.
Yong Yong semakin penasaran siapa pengirimnya. Ia melihat satu-persatu benda-benda di dalam kardus. Apa ini? Susu kotak, alat garuk punggung, dan lainnya lagi. Dimana setiap benda ditempeli memo kecil yang berisi penuh perhatian.
Yun Jie 100% mencurigai Yong Yong sebagai pelakunya karena tadi malam yang terakhir keluar dari ruangan kerjanya adalah Yong Yong. Kotak makanan itu juga milik Yong Yong. Yong Yong tidak bisa membela dirinya, karena semua itu adalah benar. Tapi bukan dia!
“Kemarin aku sudah memperingatkanmu, mundurlah selagi kau bisa mundur,” Yun Jie mengingatkan Yong Yong, “Harusnya kau bisa menarik garis batasnya. Aku―tidak―akan―jatuh―cinta―padamu!” lanjutnya menegaskan dengan mengucapkannya sekata demi sekata.
“Kau tenang saja. Aku pastikan, aku pun tidak akan jatuh cinta padamu,” Yong Yong tak kalah menegas. Dirinya merasa terhina dengan perkataan Yun Jie.
Yong Yong membawa keluar kardus berisi benda-bendanya dengan perasaan sakit hati.

Kakak beradik, Yun Jie dan Yun Chao sedang menikmati makan malam mereka di rumah. Awalnya mereka mengobrolkan masalah perusahaan. Lalu obrolan teralihkan saat Yun Chao memperlihatkan sebuah majalah. Mungkin majalah itu merupakan kabar baik bagi Yun Jie. Yun Jie meraih majalahnya dan ekspresinya berubah saat melihat seorang wanita yang menghiasi cover majalahnya.
Wanita di dalam cover majalah itu adalah Wang Lan. Seorang penyiar berita.

Di lain tempat, seorang wanita penyiar berita bernama Wang Lan. Minggu depan ia mendapatkan tugas dari manager untuk pergi ke Taiwan. Tugasnya adalah mewawancarai pebisnis yang telah mempengaruhi perekonomian.
Karier Wang Lan sempurna. Tapi tidak dengan kehidupannya. Wang Lan sudah mempunyai seorang anak. Dan hari ini, ia mendapatkan laporan jika Xiao Nian―putranya―berantem dengan teman sekolahnya. Namun, tidak ada satupun orang luar yang mengetahui jika Xiao Nian adalah putra Wang Lan. Wang Lan meminta Xiao Nian untuk berpura-pura memanggilnya dengan panggilan Bibi Kecil. Xiao Nian berantem dengan temannya karena masalah ayah dan ibunya yang sibuk diluar negeri untuk bekerja. Ayah Xiao Nian sendiri sudah meninggal.

Yun Chao tidak mengerti kenapa sepagi ini kakaknya mengajaknya ke perusahaan? Ternyata Yun Chao diangkat menjadi wakil CEO oleh Yun Jie. Pangkat Yun Chao yang semula hanya menager perencanaan sekarang menjadi wakil CEO. Keren!
“Terima kasih, Kak,” ucap Yun Chao.
“Tanggung jawab sebagai wakil CEO itu besar,” Yun Jie mengingatkan adiknya. “Tugasmu selanjutnya adalah kau harus bertanggung jawab terhadap proyek baru. Jangan membuatku kecewa.”
“Tenang saja. Aku tidak akan membuatmu kecewa. Aku akan membuat Ayah bangga padaku.”
Yun Jie tersenyum mendengarnya.

Yong Yong sedang berada di panti asuhan. Bermain ular naga dengan sangat gembira bersama anak-anak panti. Usai bermain, Yong Yong menghampiri ibu asrama. Ia mengeluhkan dimana tempat ini akan segera hilang.
Tiba-tiba Ba Hu―pria bertubuh besar dan tambun―datang memberitahukan bahwa orang yang telah membeli tanah ini datang kesini.
“Akhirnya dia sendiri yang datang kesini,” kesal Yong Yong bergegas menghampiri orang itu.
“Oh, jadi kau adalah orang yang mau mengusir kita dari sini?” tukas Yong Yong tanpa basa-basi.
“Yong Yong, jangan tidak sopan seperti itu,” ibu asrama menenangkan Yong Yong.
“Orang ini datang kesini hanya untuk mengambil keuntungan saja. Jadi dia bukan tamu kita,” marah Yong Yong.
“Maaf, ada keperluan apa Anda datang kesini? Tanya ibu asrama.
“Saya datang kesini sebagai perwakilan dari perusahaan yang telah membeli tanah ini,” Yun Chao menjelaskan maksud kedatangannya. Sekalian ingin membicarakan mengenai perpindahan anak-anak panti.
Yun Chao menyerahkan dokumen beberapa tempat panti asuhan yang akan menampung anak-anak panti disini. Ia pun sudah menghubungi panti asuhan yang dituju dan menyertakan berapa jumlah anak yang bisa diterima oleh panti tersebut.
20 tahun bukan waktu yang pendek bertempat tinggal di atas tanah panti asuhan ini. Sebelum panti ini dirobohkan, Yun Chao terlebih dahulu mengirimkan anak-anak panti disini ke panti baru mereka.
“Apa kau sudah selesai bicaranya?” tanya Yong Yong dengan wajah tidak bersahabat. “Aku sangat berterima kasih karena kau masih sempat memikirkan masa depan anak-anak disini. Tapi masa depan yang kau atur itu hanya untuk tempat tinggal mereka saja. Apa kau kira ini yang diinginkan oleh anak-anak?”
“Hal ini sangat mendesak. Jadi hal pertama yang dilakukan adalah mengatur tempat tinggal mereka,” sahut Yun Chao. “Tentulah ini yang diinginkan oleh mereka.”
“Salah. Yang diinginkan oleh mereka adalah mempertahankan sebuah rumah yang hangat.”
“Aku tidak tahu,” Yun Chao menggeleng karena tidak mau ambil pusing. “Bukannya mereka dibawa kesini karena ditelantarkan oleh keluarga mereka?”
“Yang kau katakan itu benar. Mereka hanyalah malaikat-malaikat kecil yang ditelantarkan oleh orangtua mereka. ketika kita tiba disini, orang-orang disini menyambut kita dengan tangan terbuka. Menyilakan kita masuk. Mengobati setiap luka dengan kasih sayang. Sehingga kami bisa merasakan kembali kehangatan sebuah keluarga. Jadi jangan hancurkan tempat ini,” mohon Yong Yong.
“Ketua, apakah ini yang ingin kau utarakan juga?” tanya Yun Chao ke ibu asrama.
Ibu asrama mengangguk dengan sedih. Apa yang ada di dalam pemikiran Yong Yong, itu juga yang ada di dalam pemikirannya, dan seluruh anak-anak juga akan mempunyai pemikiran yang serupa.
Yun Chao menyerahkan kartu namanya. Cerita Yong Yong tadi sebenarnya membuatnya terharu, tapi ini adalah pekerjaan. Yang bisa dilakukannya adalah memberikan waktu untuk berkemas-kemas.
Kartu namanya diambil paksa oleh Yong Yong. Yun Chao berlalu pergi. Mata Yong Yong melebar saat membaca kartu nama tersebut yang ternyata dari perusahaan Tian Yu Grup.

Langkah kaki Yong Yong cepat dan lebar menyusuri koridor menju ke ruangan kerja CEO. Hotel tempatnya bekerja adalah milik Tian Yu Grup. Sayangnya, CEO yang dicarinya tidak ada di tempat. Sekretarisnya mengatakan CEO sedang sibuk mengurusi perusahaan Tian Yu yang lain.

Wang Lan mengajak Xiao Nian ke Taipeh sebagai hadiah ulang tahun Xiao Nian. Ini pertama kalinya bagi Xiao Nan bepergian ke luar negeri dan ia sangat senang. Huang Si Nan selaku produser dari Wang Lan sudah lebih dulu berada di Taipe, dan ia yang menjemput ibu dan anak itu di bandara.
Sopir taksi melihat keakraban mereka bertiga bagaikan keluarga kecil bahagia.
“Pergi berlibur bersama ayah dan ibu, ya?” tanya si sopir taksi.
“Ayahku sudah meninggal,” sahut Xiao Nan.
“Maaf,” kata sopir taksi.
Si Nan melempar pandang ke arah Wang Lan. Kemudian Wang Lan mencairkan suasana yang tengah kikuk tersebut. Wang Lan mengambil tas yang dipeluk oleh Xiao Nian, menyindirnya dengan mengatakan, apa semua mainan di rumah dibawa?
Xiao Nian hanya bawa PSP saja.
Wang Lan mengeluarkan sebuah buku berwarna kuning. Ia membukanya dan diselipan halamannya terdapat sebuah foto. Foto itu adalah foto ayah dan ibu Xiao Nian sewaktu muda. Jamannya pacaran dulu.
“Pasti itu adalah foto Xiao Nian bersama ibu?” tanya Si Nan.
“Bukan. Tapi foto ayah dan ibu,” Xiao Nian menyahut polos.
Si Nan seolah cemburu dengan foto itu.
“Meskipun aku belum pernah bertemu dengan Ayah. Tapi aku selalu berbicara dengan Ayah. Misalnya, saat nilai ulanganku jelek.”
Wang Lan hanya bisa terdiam mendengarnya. Si Nan, oh kenapa dengan ekpresi wajahnya? Cemburu sepertinya…

Wang Lan, Xiao Nian, dan Si Nan makan bersama di restoran. Xiao Nian memesan banyak makanan yang disukainya. Sementara itu, Si Nan pergi ke toilet. Ketika pilihan pesanannya sudah selesai, ia memberitahukan pada ibunya.
Di saat itulah, tanpa sengaja mata Xiao Nian menangkap wajah seseorang yang sangat familiar dimatanya.
“Ibu, lihatlah orang itu!” tunjuk Xiao Nian ke arah pria yang duduk di seberang meja, sedang meeting.
Wang Lan mengikuti arah tunjukan Xiao Nian. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat pria itu… pria itu yang tak lain adalah mantan suaminya. Xiang Yun Jie.
Xiao Nian mengikuti pria yang mirip dengan ayahnya itu ketika pria itu beranjak pergi dari dalam restoran.
“Xiao Nian, kau tidak dengar Ibu memanggilmu!” teriak Wang Lan mengejar Xiao Nian. Tangannya berhasil menangkap lengan Xiao Nian.
Yun Jie memutar kepalanya karena mendengar ada yang berteriak di belakangnya. Betapa terkejutnya saat melihat wanita yang pernah mengisi hidupnya dulu kini hadir di depannya… dengan seorang anak laki-laki. Keterkejutan Yun Jie tak berhenti sampai disitu karena seorang pria―yang adalah Si Nan―datang dan bertanya kenapa pada Wang Lan.

Yun Jie duduk di kursi santai depan kolam renang sambil minum arak. Tentunya ia masih teringat tentang kejadian tadi di restoran.
Yun Chao datang dan melihat kakaknya tumben minum arak sendirian, hari masih siang lagi. Apa terjadi sesuatu pada perusahaan?
Yun Jie menjawab tidak ada masalah. Lalu ia bergantian bertanya tentang masalah panti asuhan itu. Semuanya berjalan lancar kan?
“Tadi aku berbicara dengan ibu asrama dan seorang gadis,” kata Yun Chao duduk di kursi sebelah Yun Jie. “Gadis itu tumbuh di panti asuhan. Jika anak-anak di panti asuhan itu tahu mereka akan dipisahkan, mereka akan merasa ditinggalkan sekali lagi,” lanjutnya dengan menyampaikan pemikiran Yong Yong tadi.
“Jadi sekarang kau sedang mengasihani mereka?”
“Hanya sedikit.”
“Kau terlalu baik terhadap mereka. Jika sampai pada waktunya mereka tidak pindah juga, kita langsung lakukan saja,” saran Yun Jie.
“Aku pastikan hal itu tidak akan terjadi. Tenang saja. Sampai batas waktunya mereka akan segera pindah,” Yun Chao menyakinkan kakaknya.
“Melakukan hal besar jangan menggunakan hati untuk mengasihani. Kau masih perlu belajar banyak,” Yun Jie memberikan nasihatnya untuk sang adik.
“Aku juga tahu,” Yun Chao menyahut mengerti. “Mengenai majalah itu. Apa Kakak sudah melihatnya?” lanjutnya mengganti pembicaraan ke Wang Lan.
“Aku sudah melihatnya. Bahkan tadi aku melihatnya. Dia bersama suami dan anaknya,” Yun Jie berkata datar.
“Suami dan anak? Padahal jelas-jelas di dalam majalah tertulis dia masih lajang,” heran Yun Chao.
Yun Jie beranjak dari duduknya. Mungkin saja Wang Lan punya keterpaksaaan untuk menyembunyikan status pernikahan dan anaknya. Yun Chao mengerti, kenapa kakaknya minum arak di siang hari, ternyata karena masalah ini. Yun Chao bisa memahaminya.

Di kamar hotel, Xiao Nian memandangi foto ayahnya.
“Ibu, orang itu tadi sangat mirip dengan Ayah,” kata Xiao Nian terus memperhatikan fotonya.
“Ibu sudah berulang kali mengatakannya. Orang itu hanya sedikit mirip dengan Ayah. Tapi dia bukan Ayah.”
Xiao Nian masih bersikeras jika orang itu sangat mirip dengan ayahnya.
Wang Lan duduk di samping Xiao Nian di bibir ranjang. Wang Lan bisa memahami perasaan Xiao Nian yang ingin seperti teman-temannya, ada seorang ayah di samping. Tapi ayah Xiao Nian sudah meninggal (Wang Lan mengarang cerita jika ayah Xiao Nian meninggal dalam kecelakaan saat bertugas ke luar negeri). Nyebelin banget sih nih ibu satu! Parah!
“Xiao Nian, maaf Ibu tidak bisa memberikanmu seorang Ayah.”
“Tidak ada Ayah bukan kesalahan Ibu,” Xiao Nian berbesar hati menerima kenyataannya. “Kan masih ada Ibu dan Paman Si Nan yang baik. Yang selalu mengajakku bermain. Hari ini kita seperti tiga orang bersama pergi main.” Xiao Nian memandang ke arah foto.
“Jadi kau sengaja membawa foto itu?”
“Iya, sebeanrnya aku tidak mengatakannya karena tidak mau membuat Ibu khawatir.”
“Xiao Nian, kenapa Ibu begitu menyukaimu,” gemas Wang Lan seraya mencubit sebelah pipi Xiao Nian.
“Ibu, jangan mencubitku lagi,” ogah Xiao Nian dengan merengek manja.
Si Nan datang dengan membawakan daftar orang-orang yang akan diwawancarai oleh Wang Lan besok. Wang Lan terkejut saat membaca ada nama Xiang Yun Jie di dalam daftar wawancaranya besok. Apa yang harus dilakukannya???

Yong Yong heran melihat Jing Jing begitu sibuk membuat sarapan pagi. Katanya, sebelum masuk ke dalam keluarga kaya, ia harus menyiapkan diri dengan memasak seperti ini.
“Aduh, mana kotak makannya, ya?” tanya Jing Jing pada dirinya sendiri sembari celingukan mencari kotak makannya.
“Kotak makanan?” gumam Yong Yong. “Apa kotak makanan yang kau maksud adalah punyaku yang itu?”
“Ya ampun, Yong Yong. Disini tidak ada punyaku atau punyamu,” ujar Jing Jing sibuk mencari kotak makanannya di dalam lemari dapur.
Yong Yong mengambil kotak makan miliknya. “Apa kotak makan ini?”
Jing Jing menyambar senang kotak makan tersebut. Memeluknya dengan penuh sayang.
“Oh, jadi kau rupanya!” seru Yong Yong.


Episode 3

Ternyata yang selama ini mengirimi surat cinta dan bekal makan itu adalah Jing Jing. Kakak pertama Yong Yong. Tentu saja Yong Yong marah. Yong Yong pun berkata gara-gara semua ini ia sampai bertengkar dengan CEO. Eh, Jing Jing malah marah balik, tidak seharusnya Yong Yong marah karena CEO sebentar lagi akan menjadi kakak ipar Yong Yong. Wah, Jing Jing terlalu percaya diri banget.

Yong Yong menghadang kedatangan Yun Jie di depan pintu lift menuju ruangan kerjanya. Yong Yong hendak meluruskan kesalah pahaman ini.
Yun Jie tidak punya waktu untuk mendengarkan. Terlalu sibuk. Dan Yong Yong meminta waktu tiga menit untuk berbicara sebentar. Yun Jie setuju.
“Bukan aku yang mengirimkan barang-garang itu.”
“Benarkah?”
Yun Jie seolah tidak peduli dengan ucapan Yong Yong. Yun Jie melengos masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Yun Jie menelpon pengawas untuk memberikan rekaman CCTV karena kemarin ada penyusup masuk. Yong Yong mematikan saluran telponnya.
Yong Yong mengatakan jangan membesar-besarkan masalah ini. Lagian Yong Yong sudah meminta mereka agar tidak melakukannya lagi. Mendengar hal itu, Yun Jie berpikir sepertinya Yong Yong mengenal penyusup yang masuk tersebut. Yong Yong gelandapan sendiri. Namun, Yong Yong menyakinkan jika mereka tidak akan melakukan hal itu lagi.
Dengan santainya Yun Jie mengatakan jika sebenarnya ia sudah melihat rekaman CCTV-nya. Ada dua wanita penyusup yang masuk. Satu wanita bertubuh kurus―dan itu jelas bukan Yong Yong―dan seorang wanita bertubuh gemuk.
Yong Yong marah, namun ia memastikan dengan berjanji, kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi. Selain itu, kedatangannya untuk menemui Yun Jie ada alasan yang lain.
“Apa Tien Yu membeli tanah yang di atasnya terdapat panti asuhan?” Yong Yong bertanya hati-hati.
“Darimana kau tahu Tien Yu membeli tanah yang di atasnya terdapat panti asuhan? Tanah itu rencananya untuk membangun sebuah mall.”
Yun Jie menganggap hal ini sebuah rintangan kecil. Rintangan kecil? Yong Yong tidak terima. Lantas Yong Yong menceritakan sebuah kisah pada Yun Jie.
Ibunya Yong Yong sudah meninggal dan kehidupan ayahnya Yong Yong tidak stabil. Untuk itu, Yong Yong dikirim ke panti asuhan. Anak sekecil Yong Yong jelas saja tidak mau ditinggal di panti asuhan, ia menangis. Oleh ibu ketua asrama, Yong Yong disambut dengan hangat, namun Yong Yong menolak.
Seperti janji ayah Yong Yong, ayahnya akan datang lagi ke panti untuk menjemput Yong Yong. Yong Yong senang, dan ia mulailah tinggal bersama ibu tiri dan kedua kakak perempuannya.
Yun Jie mengejek cerita yang baru dikisahkan oleh Yong Yong karena menganggap cerita itu hanyalah karangan belaka. Intinya Yong Yong mau menjadi Cinderella?
Yong Yong berkata, ia bukan Cinderella. Meskipun sama, tapi ia memiliki keluarga yang baik. Yong Yong memohon pada Yun Jie agar mempertahankan panti asuhan itu, karena panti asuhan itu seperti rumah bagi mereka.
Yun Jie dengan tegas menolak permohonan Yong Yong. Butuh waktu lama memutuskan proyek ini, seperti berdebat panjang dalam rapat. Dan hanya karena Yong Yong yang memohon, ia tak akan mau melepaskan proyeknya. Selain itu, ia juga harus menanggung ribuan keluarga yang bekerja untuk Tien Yu. Mall barunya harus segera dibangun.
Yong Yong tanpa sengaja memberikan ekspresi memelas. Dan Yun Jie menghardik Yong Yong agar jangan memberikan ekspresi mata anjing seperti itu. Oh, maksudnya puppy eyes gitu ya?
Yong Yong menangis. Sebelum melangkah keluar ia berkata, “Kau menanggung ribuan keluarga, tapi anak-anak di panti asuhan hanya masalah kecil bagimu. Di panti asuhan tidak hanya rumah kami. Tapi juga seluruh dunia kami.”

Yong Yong mengadu dan menggerutu pada seniornya. Ia tidak mau lagi bekerja di hotel ini. Apalagi membersihkan ruangan kerja CEO. Ia memutuskan untuk keluar dari pekerjannya.

Dalam perjalanan, Yun Jie menyinggung masalah proyek baru. Mall yang akan dibangun merupakan proyek baru di luar hotel dan gedung-gedung lainnya. Makanya itu, Yun Jie tampak begitu semangat.
Yun Chao sedang tidak mau membicarakan masalah pekerjaan. Tadi dia sudah bertanya pada sekretaris Yun Jie mengenai kesehatan kakaknya. Jadi hari ini dengarkan saja apa yang telah diaturkan oleh Yun Chao untuk kakaknya.
Yun Chao mengajak Yun Jie ke tempat fitness.
Yun Jie dan Yun Chao bersiap untuk berenang. Tiba-tiba Yun Jie melompat ke dalam air kolam saat melihat seorang anak kecil yang nyaris tenggelam. Yun Jie berhasil menarik tubuh anak kecil itu ke atas.
“Adik kecil, kau tidak apa-apa?” khawatir Yun Jie.
“Ayah…,” kata Xiao Nian lemas, samar-samar ia melihat wajah ayahnya.
“Tidak apa-apa. Sekarang kau sudah selamat. Jangan khawatir,” Yun Jie menenangkan Xiao Nian.
Si Nan datang dan kaget melihat Xiao Nian terbaring lemas. Si Nan tak luput mengucapkan terima kasih pada Yun Jie yang telah menyelamatkan Xiao Nian.

Yong Yong memutuskan untuk tidak pergi bekerja. Keputusannya sudah bulat, jika dia tidak dipindahkan ke bagian yang lain, lebih baik ia akan mengambil cuti saja.
Ibu tiri Yong Yong mulai merengek dan mengompor-ngompori Yong Yong. Suaminya sudah sebulan ini bepergian keluar untuk bekerja, rasanya ingin sekali membawa suaminya pulang ke rumah.
Yong Yong menegaskan pada ibu tirinya, ia tidak akan membuat keluarganya kelaparan. Ibu tiri Yong Yong tersenyum-senyum senang.

Yong Yong mendapatkan pekerjaan baru sebagai pengasuh anak. Ia mendapatkan pekerjaan yang diberikan oleh seniornya di hotel.
Wang Lan menjelaskan tentang Xiao Nian. Sikap putranya manis, tapi ada kalanya bersikap nakal juga. Wang Lan menginginkan seorang pegasuh yang lembut dan bisa menjaga putranya, baru ia bisa tenang. Jika ada masalah telpon saja. Jika mau makan tinggal pesan saja. Satu yang terpenting adalah jangan membawa keluar Xiao Nian, itu membuatnya tidak tenang.
Wang Lan memanggil putranya keluar untuk berkenalan dengan Yong Yong si pengasuh baru. Xiao Nian mengeluari dengan raut wajah tidak suka pada Yong Yong.
Wang Lan harus segera pergi kerja karena Si Nan sudah menjemputnya.
Lepas Wang Lan dan Si Nan pergi, Yong Yong mulai melancarkan jurus mendekati anak kecil. Sayangnya, Xiao Nian tidak mudah untuk didekati oleh Yong Yong. Xiao Nian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Kepala Yong Yong terantuk pintu saat hendak mengejar xiao Nian.
“Xiao Nian, buka pintunya.” Yong Yong mengetuk-ngetuk pintunya berulang kali. “Xiao Nian, buka pintunya.”
Yong Yong masuk ke pintu kamar yang lain. Ia celingukan mencari Xiao Nian, dan dikejutkan oleh Xiao Nian yang bersembunyi di dalam kamar mandi. Dari balik kaca jendela kamar mandi Xiao Nian memerintah Yong Yong untuk pergi.
“Kalau aku tidak bersamamu, bagaimana aku bisa menjamin keselamatanmu?” Yong Yong tak kalah berseru.
“Aku sangat tidak nyaman ada orang asing di dekatku! Bagaimana bisa selamat?” tukas Xiao Nian.
Yong Yong mengatur emosinya. “Benar, aku adalah orang asing. Tapi tidak ada yang menjamin selanjutnya jika di detik berikutnya kita malah menjadi teman. Berikan aku satu kesempatan.”
“Tidak mau!”
Yong Yong masih berusaha mengatur emosinya. Tanpa sengaja sepatunya menginjak selembar kertas yang tergeletak di atas lantai. Yong Yong memungutnya.
“Apa ini? Darimana kau mendapatkannya?” tanya Yong Yong dengan memperlihatkan selembar kertas dengan profil Xiang Yun Ji.
Xiao Nian bergegas keluar dari dalam kamar mandi.

Episode 4
Bagaimana bisa Xiao Nian punya data tentang Xiang Yun Jie?
Yong Yong dan Xiao Nian rebutan kertas itu. Hingga akhirnya Xiao Nian berseru itu adalah data tentang ayahnya. Mendengarnya spontan saja Yong Yong kaget dan bertanya sekali lagi pada Xiao Nian.
Yong Yong masih tidak percaya jika Xiao Nian ini adalah anaknya Yun Jie. Ia membandingkan gambar Yun Ji di kertas dengan wajah Xiao Nian.
Yong Yong dan Xiao Nian berhenti perang dan kini keduanya sudah berdamai. Mereka minum cola dan makan camilan. Yong Yong terus mengorek-ngorek tentang kehidupan Xiao Nian. Lalu Yong Yong menggerutu karena gaya bicara Xiao Nian mirip dengan gaya bicara Yun Jie. Huh, darah keturunan yang sama.
Xiao Nian merasa Yong Yong terus bertanya banyak hal padanya. Gantian ia yang bertanya. Darimana Yong Yong kenal dengan ayahnya? Yong Yong mengatakan ia bekerja di hotel ayahnya Xiao Nian.

Sementara itu, Wang Lan sedang melakukan interview-nya dengan Xiang Yun Jie. Sebenarnya Wang Lan ingin menghapus nama Xiang Yun Jie dari daftar wawancaranya, namun dilarang oleh Si Nan karena Yun Jie termasuk orang yang paling berpengaruh terhadap dunia bisnis.
Begitu juga dengan Yun Jie yang baru tahu jika pewawancara yang akan mewawancarainya adalah Wang Lan. Terlanjur sudah, akhirnya mereka berdua bertemu setelah sekian lama tidak bertemu. Dalam sesi wawancara keduanya sangat profesional karena mengesampingkan urusan pribadi mereka.
Di akhir wawancara Wang Lan dan Yun Jie saling berjabat tangan. Saat Si Nan sang produser berteriak ‘cut’, barulah Wang Lan dan Yun Jie tampak saling canggung.
Si Nan masih ingat dengan wajah Yun Jie yang semalam sudah menolong Xiao Nian. Wang Lan kaget karena yang telah menyelamatkan anaknya adalah ayah kandung Xiao Nian sendiri. Yun Jie mengiranya Xiao Nian adalah anaknya Si Nan, ia pun bertanya pada Si Nan apakah anaknya baik-baik saja?
Si Nan melirik ke Wang Lan, begitu juga dengan Wang Lan yang melirik takut-takut ke arahnya. Akhirnya Si Nan mangatakan jika Xiao Nian baik-baik saja.
Pernyataan Yun Jie berikutnya membuat Wang Lan tersentak kaget. Yun Jie mengatakan jika ia telah berjodoh bertemu dengan Xiao Nian.
Si Nan pergi menjauh karena Yun Jie meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan Wang Lan. Wang Lan menyanggupinya. Entah kenapa, tapi raut wajah Si Nan seolah sedang memikirkan sesuatu.

Mereka berbicara di beranda atas gedung. Yun Jie menanyakan apakah Xiao Nian adalah anak dari Si Nan? Dengan ragu-ragu Wang Lan menjawab iya, anak itu sudah berusia enam tahun.
Yun Jie mengucapkan selamat pada Wang Lan yang sudah menggapai mimpinya. Wang Lan juga mengucapkan selamat pada Yun Jie yang telah mewarisi bisnis ayahnya. Namun, bukan itu yang diinginkan oleh Yun Jie. Bahkan Yun Jie menyindir Wang Lan, impiannya adalah menjadi seorang ayah dan mempunyai seorang anak yang manis seperti Xiao Nian, dan sayangnya berkat Wang Lan, ia tidak mempunyai kesempatan itu.

Si Nan menunggu Wang Lan di depan gedung. Wang Lan menemuinya dengan sedih, ia ingin memperpendek kegiatannya di Taipeh menjadi tiga hari. Si Nan bingung apa ini ada hubungannya dengan Xiang Yun Jie?
Wang Lan tidak bisa terus-terusan menyembunyikan rahasia ini. Ia memutuskan untuk mengatakan jika Xiang Yun Jie adalah ayah kandung Xiao Nian. Mantan suaminya.
Si Nan kaget mendengarnya.

Ahhh, so cute! Gemes aku ngelihatnya…
Yun Chao masuk ke ruangan kerja Yun Jie, namun Yun Jie lagi tidak mood membicarakan masalah pekerjaan. Oh, ini bukan gaya Yun Jie yang tidak mempedulikan masalah pekerjaan.
Sebenarnya Yun Chao cuma alasan saja datang ke ruangan kerja Yun Jie hendak membicarakan masalah pekerjaan. Alasan sebenarnya karena ia penasaran dengan wawancara dengan Wang Lan. Kata sekretaris, Yun Jie tidak makan siang dan terus mengurung diri di dalam ruangan.
Yun Jie perlu tempat untuk berbagi ceritanya, istilah kata orang sih curhat. Yun Jie menceritakan pada Yun Chao kenapa ia dulunya bercerai dengan Wang Lan.
Yun Jie dan Wang hampir mempunyai seorang anak. Namun, karena ambisi Wang Lan untuk mengejar mimpinya, Wang Lan ingin menggugurkan kandungannya, tapi Yun Jie menolak. Hingga surat cerai pun ditanda tangani Yun Jie. Sejak hari itu, Yun Jie merasa bersalah pada dirinya. Dan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ternyata Wang Lan sudah menikah dan mempunyai seorang anak.

Yong Yong membacakan dongeng untuk menemani tidur siang Xiao Nian.
Saat sedang membereskan buku-buku di atas meja Xiao Nian yang berantakan, tanpa sengaja ia membaca buku harian milik Xiao Nian.
Aku berbohong. Aku mengatakan tidak ingin bertemu dengan ayah. Sebenarnya aku ingin bertemu dengan ayah. Aku merindukannya. Tapi sepertinya ayah tidak ingin bertemu denganku.
Yong Yong merasa kasihan terhadap Xiao Nian. Meskipun Xiao Nian tidak kekurangan apapun, tapi Xiao Nian tidak dapat melihat ayah kandungnya.

Yong Yong menginjak pedal sepedanya. Pikirannya masih terngiang dengan tulisan Xiao Nian. Lalu ia pun teringat dengan kejadian sewaktu ditinggalkan oleh ayahnya di panti asuhan. Yong Yong menahan airmatanya. Sepeda ia rem mendadak, dan memutar balik sepedanya.
Yong Yong tidak berhasil menemui Yun Jie di kantor hotel. Saat ia hendak melangkah keluar dari ruangan itu, ponsel Yun Jie yang ketinggalan berdering. Yong Yong mengangkatnya.
Yun Jie agak heran dengan Yong Yong. Habisnya Yong Yong kan sedang cuti kerja, mogok kerja, eh malah masuk ke ruangannya. Yong Yong menjawab karena ia ingin membantu CEO-nya. Yun Jie makin heran.
Yong Yong mengembalikan ponsel Yun Jie, sekaligus mengatakan ada seseorang yang sangat ingin bertemu dengan Yun Jie. Sayangnya, sikap Yun Jie sama sekali tidak bersahabat dengannya. Katanya ada banyak orang yang ingin bertemu denganya, malahan seolah menyindir Yong Yong terus. Lama-kelamaan Yong Yong naik pitam juga. Ia mengatakan kalau Yun Jie tidak pantas memiliki seorang anak yang periang dan manis.
“Kau sedang mengutukku?!” tukas Yun Jie.
“Kau tahu? Xiao Nian ingin sekali bertemu denganmu!”
Yun Jie terdiam. Ia jadi teringat dengan pertemuannya dengan Wang Lan dan Si Nan saat usai wawancara.
Yun Jie mengejar Yong Yong sampai di depan lift.
“Fang Yong Yong, jelaskan padaku apa yang kau katakan tadi?”
“Semua yang ingin kukatakan sudah kukatakan. Bertahun-tahun kau sama sekali tidak mempedulikannya. Kau sama sekali bukan seorang ayah yang baik bagi Xiao Nian!”
Pintu lift terbuka dan Yong Yong melangkah masuk. Tangan Yun Jie menahan pintu liftnya.
“Darimana kau mendengar aku sudah mempunyai anak? Cepat katakan!” hardik Yun Jie tak sabar. “Xiao Nian adalah anakku? Benarkah itu?”
Kali ini gantian Yong Yong yang mendelik kaget. “Apa mungkin kau tidak tahu?”
Yun Jie hanya diam. Dari aksi diam itu bisa menjawab segalanya.
Mereka membicarakan masalah Xiao Nian di dekat jendela.
“Kau benaran tidak tahu? Atau berpura-pura tidak tahu?” Yong Yong masih belum percaya dengan Yun Jie.
“Kalau tahu dia anakku. Sudah dari dulu aku menjemputnya pulang!” seloroh Yun Jie masih syok. Yang lebih membuat syok Yun Jie lagi adalah saat Yong Yong mengatakan umur Xiao Nian adalah delapan tahun.
Yong Yong yang tidak tahu permasalahan sebenarnya justru memojokkan Yun Jie. Yong Yong mengatakan, bagaimana bisa Yun Jie sama sekali tidak tahu kalau sudah memiliki seorang anak berusia delapan tahun? Setiap malam Xiao Nian sebelum tidur selalu memandangi foto ayahnya.
Semua yang ingin dikatakan oleh Yong Yong sudah selesai dikatakannya. Ia pergi, dan sebelum pergi ia sempat memutar kepalanya melihat Yun Jie yang masih syok.
“Wang Lan, mana boleh kau begitu kejam!” gumam Yun Jie lirih.

Kilas balik antara Yun Jie dan Wang Lan saat masih kuliah.
Yun Jie―oh, tidak! ganteng banget waktu pake kacamata―seorang mahasiswa tampan yang kuliah di China. Tidak ada yang tidak kenal dengan Yun Jie karena Yun Jie termasuk mahasiswa cerdas. Bahkan Wang Lan pun sudah mengenalnya meskipun hanya dari dengar-dengar saja. Dan siapa sangka pria itu mendekatinya dan mengenal tentang dirinya.
Hubungan keduanya berlanjut. Keputusan besar sudah dibuat oleh Yun Jie yaitu menikah dengan Wang Lan di usia muda. Demi Wang Lan, Yun Jie rela menetap di China―karena Wang Lan diterima menjadi wartawan di salah satu perusahaan―dan meninggalkan keluarga di Taipeh. Padahal orangtuanya sangat berharap Yun Jie meneruskan bisnis keluarga.
Yun Jie memulai semuanya dari awal setelah membina pernikahannya dengan Wang Lan. Rumah kecil yang ditempatinya bersama Wang Lan. Setiap hari naik bis dan berdesak-desakan untuk menuju ke tempat kerjanya. Sangat bertolak belakang dengan kehidupannya di Taipeh.
Wang Lan takutnya Yun Jie menyesal telah menikah dengannya. Yun Jie mengatakan tidak pernah menyesal menikah dengan Wang Lan. Asalkan ada Wang Lan semuanya menjadi bahagia…
Tapi pernikahan yang bahagia itu hanya berlangsung sebentar. Wang Lan hamil. Tentu saja yang paling bahagia dan bersemangat menyambut kehamilan Itu adalah Yun Jie. Tapi tidak dengan Wang Lan. Wang Lan belum siap menjadi seorang ibu. Baru lulus kuliah sudah menikah, padahal ia masih menikmati pekerjaannya menjadi wartawan. Lalu tiba-tiba ia mendapati dirinya hamil… Wang Lan tidak mau hanya gara-gara anak ini maka impiannya menjadi terhambat. Terlintas di benak Wang Lan untuk menggugurkan kandungannya. Yun Jie dan Wang Lan sempat bertengkar mengenai masalah ini.
Wang Lan memberikan surat cerai ke Yun Jie esok harinya. Wang Lan berujar jika ia tidak mau dikekang karena seorang anak. Ia meminta Yun Jie untuk memberikannya kebebasan lagi. Surat cerai disodorkan Wang Lan ke tangan Yun Jie.
Yun Jie sangat mencintai Wang Lan. Ia pernah berjanji pada Wang untuk membantunya mewujudkan impiannya. Surat cerai itupun ditanda tangani oleh Yun Jie.
Wang Lan yang baru saja pulang dari kerjanya menangis saat mendapati surat cerai itu sudah ditanda tangani oleh Yun Jie.

Episode 5
Untuk membuktikan jika Xiao Nian adalah putranya, Yun Jie pergi ke resto hotel kemarin. Ia duduk membelakangi meja Wang Lan, Xiao Nian, dan Si Han.
Yun Jie terkejut saat mendengar Xiao Nian memanggil pria itu dengan sebutan Paman Si Nan. Xiao Nian bukan anak Si Nan. Hal itu makin menguatkan Yun Jie jika Xiao Nian adalah putranya.

Ayah menolak usul Yun Jie dalam pengangkatan Yun Chao sebagai wakil CEO. Ayah masih belum percaya dengan kemampuan berbisnis putra keduanya itu. Dulu, Yun Chao pernah membuka bisnis internet tapi gagal.
Yun Jie terus membujuk sang ayah untuk memberikan Yun Chao kesempatan. Ditambah dengan bujukan dari sang ibu. Akhirnya ayah bersedia memberikan kesempatan pada Yun Chao.
Perbincangan pun beralih ke keluarga Kong. Kekayaan keluarga Kong bisa membantu bisnis keluarga Xiang selanjutnya. Dan sang ayah pun akan mengadakan acara makan siang antara keluarga Xiang dan keluarga Kong. Selain itu, keluarga Kong memiliki seorang putri yang cantik dan pintar yang baru saja pulang dari luar negeri. Syukur-syukur Yun Jie dan putri keluarga Kong itu bisa saling suka dan menikah.
Tapi Yun Jie tidak mau ayahnya mengaturkan masalah percintaannya. Sempat ayahnya menyinggung masalah pernikahannya terdahulunya, jika saja ibunya tidak menyetopnya.

Yun Jie menyambangi rumah Yong Yong di tengah malam-malam buta.
Yong Yong heran darimana Yun Jie mendapatkan nomor telponnya. Yun Jie mendapatkannya dari sekretarisnya.
Yun Jie mengatakan ia ada di depan rumah Yong Yong. Tapi Yong Yong tidak percaya dan menganggap Yun Jie sedang menipunya. Telpon ditutup Yong Yong. Yun Jie menghubungi Yong Yong lagi tapi tidak diangkat.

Pagi-pagi…
Yong Yong membuka jendela kamarnya lebar. Dan ia terkejut melihat Yun Jie menyapanya. Spontan Yong Yong menutup jendelanya lagi.
Semalam tadi Yun Jie duduk di depan kamar Yong Yong. Ia ingin memintai bantuan Yong Yong mengenai Xiao Nian.
Biasanya Yun Jie sukanya berteriak-teriak padanya. Jika ingin meminta bantuannya, maka Yun Jie harus memohon dengan setulus hati.
Yun Jie yang semula tidak mau, akhirnya mengalah juga demi bisa bertemu dengan Xiao Nian.
Melihat ketulusan Yun Jie dalam memohon bantuannya, Yong Yong berniat hendak menimbang-nimbangnya. Tapi karena melihat ekspresi kecewa dari Yun Jie, akhirnya Yong Yong mengalah dan bersedia membantu Yun Jie untuk mempertemukan dengan Xiao Nian. Sesampainya di hotel, ia akan menghubungi Yun Jie.

Yong Yong mengintai ke luar pintu kamar hotel. Mengintai apakah Wang Lan sudahpergi apa belum? Xiao Nian bertanya heran.
Yong Yong bertanya pada Xiao Nian, apa ingin bertemu dengan ayah? Apa kangen dengan ayah? Tapi jika Xiao Nian tidak mau bertemu dengan ayah maka Yong Yong akan menyuruh ayahnya untuk pergi.
Tentu saja Xiao Nian gembira mendengarnya. Sudah lama sekali ia ingin bertemu dengan ayahnya. Tapi ada satu syarat yang diberikan oleh Yong Yong, yaitu masalah pertemuan ini jangan sampai ibunya tahu. Xiao Nian berjanji tidak akan mengatakannya.
Yun Jie yang menunggu di lantai bawah mendapat telpon dari Yong Yong agar lekas naik.
Yong Yong sempat tertawa geli melihat kaos yang dikenakan oleh Yun Jie. Sebelumnya ia bertanya pada Yong Yong benda apa yang disukai oleh anak lelaki berusia delapan tahun? Dan kaos bergambar tokoh robot itulah yang dikenakan oleh Yun Jie untuk pergi menemui Xiao Nian.
Yun Jie merasakan tegang dan gugup bercampur di dalam dadanya sesaat hendak bertemu dengan Xiao Nian.
Yun Jie dan Xiao Nian saling bertatapan terpaku tak bergerak. Xiao Nian membandingkan Yun Jie di dalam foto dengan Yun Jie asli yang berdiri di depannya. Sama.
Yong Yong keluar dari kamar hotel. Ia sengaja untuk memberikan waktu berdua untuk Yun Jie dan Xiao Nian.
Pelukan dan tangis haru membuncah di antara keduanya.
Yun Jie meminta maaf pada Xiao Nian. Ia sama sekali tidak mengenali putranya. Begitu juga dengan Xiao Nian yang menangis gembira. Ia tidak bermimpi karena sekarang ia punya ayah, dan ayahnya tidak meninggal.
Yong Yong mendengarkan percakapan Yun Jie dan Xiao Nian dengan haru.
Xiao Nian mengatakan pada ayahnya, jika ia sedang kangen atau ingin mengatakan sesuatu pada ayahnya, maka ia akan menuliskannya di dalam diary. Yun Jie membaca setiap tulisan tangan Xiao Nian dalam diary.
Yun Jie dan Xiao Nian mengobrol banyak. Hingga mereka tidak menyadari jika Wang Lan dan Si Nan sudah sampai di depan pintu kamar.
Yong Yong terkejut dan tak dapat menghindar saat Wang Lan dan Si Nan datang. Yong Yong berpura-pura sedang bermain petak umpet dengan Xiao Nian, dimana dirinya sekarang menjadi hantu dan akan menangkap Xiao Nian. Yong Yong tidak dapat menahan Wang Lan yang hendak masuk.
Wang Lan benar-benar terkejut bukan kepalang saat melihat Yun Jie sedang bersama dengan Xiao Nian. Wang Lan menarik tangan Xiao Nian agar menjauh dari Yun Jie.
Yun Jie menghardik Wang Lan yang telah menipu dan membohonginya selama ini. Menyembunyikan Xiao Nian dari kebenarannya.
Xiao Nian menangis dan marah pada ibunya karena telah membohonginya. Mengatakan jika ayahnya sudah meninggal, tapi kenyataannya ayahnya masih hidup.

Yun Jie dan Wang Lan mengobrolkan masalah Xiao Nian di sebuah kafe.
Yun Jie merasa karena keegoisan Wang Lan, ia sudah melewati delapan tahunnya tanpa Xiao Nian. Ia ingin mengambil alih pengasuhan Xiao Nian, menjaganya. Wang Lan tidak setuju. Selama delapan tahun ini, ia yang sudah membesarkan Xiao Nian dan Xiao Nian tumbuh dengan sangat baik.
Mungkin saja Wang Lan gagal dalam pernikahannya, tapi ia lulus menjadi seorang ibu.
Yun Jie menyuruh Wang Lan untuk mencari pengacara. Biarkan saja pengacara yang merundingkan permasalahan mereka.
Yun Jie pergi meninggalkan Wang Lan dengan emosi marah. Wang Lan menjadi ketakutan.

“Bagaimana berundingnya? Ada hasil?” penasaran Yong Yong.
Yun Jie hanya diam saja.
Yong Yong menoleh ke jok belakang mobil. Boneka beruang super besar duduk dengan manisnya di jok belakang. Boneka itu pastinya dibelikan Yun Jie untuk Xiao Nian.

Xiao Nian menangis. Ia takut jika tidak bisa bertemu lagi dengan ayahnya.
Wang Lan sengaja tidak mengatakan kebenaran ini karena takut kalau Yun Jie akan mengambil Xiao Nian darinya. Dan ketakutannya sebentar lagi akan terjadi. Wang Lan memeluk Xiao Nian.

Yun Chao datang terlebih dahulu ke restoran. Ia bertemu dengan Kong Xin Jie. Dan Kong Xin Jie salah mengenali Yun Chao sebagai Xiang Yun Jie.
Kedua orangtua Yun Chao dan orangtua Xin Jie datang terlambat, jadi mereka berdua mengobrol. Sikap Yun Chao sangat manis terhadap Xin Jie, dan itu membuat Xin Jie tertarik.
Yun Chao memberikan komentarnya terhadap Xin Jie. Xin Jie terkejut mendengarkan komentar mengenai dirinya begitu terang-terangan. Kemudian ia tersenyum sembari menyebut Yun Chao dengan Xiang Yun Jie, Xin Jie mengatakan jika Xiang Yun Jie lulus tes.
Kedua orangtua mereka datang.
Xin Jie menjadi salah tingkah karena telah salah orang. Berbeda dengan Yun Chao yang tersenyum menahan gelinya.
Sebelum makan siang berakhir, Xin Jie pulang terlebih dahulu. Dua orang kakak-beradik bersikap sama saja. Yang kakak meninggalkannya, sedang yang adik mempermalukannya.

Episode 6
Yong Yong heran pada Yun Jie, karena bisa-bisanya Yun Jie menikmati pemandangan. Ditanya mengenai Xiao Nian, Yun Jie sama sekali belum terpikir handak melakukan apa?
Yun Jie mengucapkan terima kasih karena hari ini Yong Yong sudah membantunya mempertemukannya dengan Xiao Nian. Tanpa bantuan Yong Yong, mungkin selamanya ia tak akan bisa bertemu dengan Xiao Nian.
“Setelah kau bertemu dengan Xiao Nian, sifatmu sebagai seorang manusia muncul,” kata Yong Yong.
“Humormu sangat buruk. Tidak lucu,” sahut Yun Jie.
“Siapa juga yang bercanda denganmu? Aku kan mengatakan yang sesungguhnya,” gumam Yong Yong.
Yun Jie menceritakan tentang beberapa planet kecil. Dan di bumi hanya bisa melihat sekali matahari senja.
Yong Yong tak mau kalah bercerita tentang matahari senja. Sepulang kerja saat melewati supermarket, ia akan membeli sebotol arak dan menikmati matahari senja. Kemudian, Yong Yong menghentikan ceritanya karena dianggapnya terlalu berisik.
“Anggap saja hari ini kau beruntung,” kata Yun Jie tanpa rasa terganggu.

Yun Jie sudah menghabiskan satu botol arak. Yong Yong sama sekali tidak menyentuh botol araknya. Yong Yong takut jika ia meminum araknya maka ia akan disuruh bayar oleh Yun Jie. Yun Jie berkata ia yang akan membayarnya, jadi minum dan nikmati saja.
Yong Yong tanpa sungkan lagi meminum gelas berisi arak.
“Setengah arah yang kau minum itu harganya setara dengan gaji setengah bulan,” canda Yun Jie menakuti Yong Yong.
“Apa???”
Yun Jie tertawa terbahak melihat ekspresi takut di wajah Yong Yong. Melihat tawa di wajah Yun Jie, Yong Yong mengiranya Yun Jie sudah mabuk.
Yun Jie curhat colongan. Ia mengirikan pemandangan Wang Lan, Si Nan, dan Xiao Nian. Mereka bertiga seperti keluarga kecil. Seharusnya keluarga itu miliknya. Yun Jie pun lalu beralih bertanya mengenai kehidupan keluarga Cinderella Yong Yong.
Yong Yong gantian yang curhat colongan. Ibu tiri dan kedua kakak tiri. Keluarga tirinya selalu ribut satu sama lainnya dan itu sangat lucu. Setelah ibunya meninggal, Yong Yong kembali merasakan sekali lagi memiliki keluarga. Sangat menggembirakan.
Setelah menemukan Xiao Nian, Yun Jie ingin mengambil hak asuh terhadap anak itu. Tapi ia tidak tega untuk memisahkan antara Wang Lan dan Xiao Nian. Dilemma.
Yun Jie mabuk karena terlalu banyak minum. Sempat ia berujar jika hari ini―meskipun mengalami banyak masalah―ia tetap gembira.

Yun Jie mabuk dan tidak dapat mengendarai mobilnya.
Yong Yong hendak memanggil taksi tapi Yun Jie tidak mau, karena ia tidak mabuk. Jelas-jelas Yun Jie mabuk begitu. Yong Yong memasukkan Yun Jie ke dalam mobil dan membiarkannya tidur disitu. Namun, ia jadi tidak tega meninggalkan Yun Jie yang tengah mabuk.
Yong Yong menuntun Yun Jie yang berjalan sempoyongan sambil memeluk boneka beruang. Yong Yong menyetop taksi.
Yong Yong bertanya pada Yun Jie dimana rumahnya? Yun Jie yang mabuk menjawab asal, disana. Si sopir menyalahkan Yong Yong sebagai pacar yang tidak bertanggung jawab karena meninggalkan Yun Jie.
Mau tidak mau, Yong Yong terpaksa ikut dalam taksi. Di dalam taksi Yong Yong terus bertanya pada Yun Jie yang sedang mabuk, dimana rumahnya?

Berhubung Yong Yong tidak tahu dimana rumah Yun Jie, terpaksa Yong Yong membawa Yun Jie pulang ke rumahnya.
Yun Jie direbahkan di atas ranjang Yong Yong. Tiba-tiba Yun Jie muntah dan mengenai kaosnya, ia melepas kaosnya dan melemparkan kaosnya ke wajah Yong Yong. Lalu membuka celana panjangnya dan melemparnya juga ke wajah Yong Yong.
Yong Yong geram setengah mati melihatnya.
Yong Yong melap bekas muntahan Yun Jie yang menempel di wajah Yun Jie. Dalam tidur Yun Jie, ia mengingau tentang Xiao Nian agar jangan meninggalkannya.
Yong Yong menarik selimut membungkus tubuh Yun Jie.

Pagi-pagi sekali…
Wen Wen masuk ke dalam kamar Yong Yong, merengek minta makan. Ia melihat Yong Yong tidur membungkus tubuhnya sampai ke kepala. Dan terpana melihat kaki Yong Yong yang berbulu.
Jing Jing keluar dari kamarnya. Melihat Yong Yong tidur di kursi depan tivi.
Wen Wen keluar kamar Yong Yong dan melihat Yong Yong tidur di ruang tengah, lalu bertanya pada Yong Yong, apa tadi malam Yong Yong membawa pulang teman? Kakinya berbulu…
Yong Yong beranjak bangun dan menutup pintu kamarnya dengan panik.
Ibu tiri bangun. Jing Jing mengadu kalau Yong Yong membawa pulang teman, dan Wen Wen pun mengadu kalau Yong Yong belum membuatkan sarapan. Ibu tiri Yong Yong berniat mengundang teman Yong Yong sarapan pagi, tapi Yong Yong menolak dengan mengatakan jika temannya itu akan segera berangkat kerja.
Yun Jie terbangun karena mendengar suara berisik dari lagu yang dinyalakan oleh ibu tirinya Yong Yong. Ia beranjak keluar kamar dengan bertelanjang dada, dan…
Ibu tiri, Jing Jing, dan Wen Wen kaget melihat CEO Xiang Yun Jie berada di rumah mereka.
Yun Jie langsung masuk kamar lagi. Malu!
“Aku akan segera membuatkan sarapan,” malu Yong Yong yang berasa kegep di pagi hari.

Yong Yong memberikan baju Yun Jie yang tadi malam dicucinya.
“Fang Yong Yong, tadi malam kau tidak melepaskan bajuku kan?”
“Kau sendiri yang menerjang masuk dan melepas bajumu,” protes Yong Yong.
Jing Jing dan Wen Wen bertanya tidak percaya pada Yong Yong dari balik jendela kamar. Benarkah tadi malam Yong Yong tidak melakukan apa-apa pada Xiang Yun Jie?
Yong Yong kesal dengan kedua kakak tirinya. Ia menyuruh Yun Jie agar lekas sarapan.
Yong Yong menceritakan segalanya pada ibu tiri dan kedua kakak tirinya, kenapa Yun Jie bisa ada di kamarnya. Keluarga tirinya masih belum percaya dengan ucapan Yong Yong dan terus mencecar Yong Yong.
Yun Jie datang dan membenarkan ucapan Yong Yong. Ia akan membayar uang sewa semalam kamar Yong Yong.
Tak mau berlama-lama, Yong Yong mengatakan jika Yun Jie harus segera pulang.

“Maaf sudah merepotkanmu.”
“Sudahlah. Aku tidak mau ada hubungan apa-apa lagi denganmu. Apalagi sampai berhutang jasa sama kamu. Cepat pulang sana,” usir Yong Yong.
“Di dalam kamarmu tidak ada kamera kan?” tanya Yun Jie hati-hati.
“Apa orang kaya selalu berpikiran sembarangan? Meskipun di rumahku ada kamera, aku juga tidak akan tertarik melihat tubuhmu,” gerutu Yong Yong. “Aku, Fang Yong Yong terlalu baik terhadapmu makanya membawamu pulang. Anggap saja aku sedang sial.”
Yun Jie meninggalkan boneka beruangnya di dalam kamar Yong Yong. Sebuah pesan tertulis agar menjagakan boneka beruangnya dengan baik. Yong Yong tersenyum membaca dan memukul-mukul gemas bonekanya.

Yong Yong pergi ke hotel untuk menjaga Xiao Nian, tapi Wang Lan sudah keluar dari hotel tadi malam. Wang Lan menitipkan sebuah surat ucapan terima kasih untuk Yong Yong yang dititipkannya ke resepsionis.
Yong Yong mendapat telpon dari ibu asrama panti asuhan. Hari ini adalah tenggat waktu perobohan bangunan di panti asuhan. Selain itu ada masalah lain yang lebih penting.
Ba Hu melakukan aksi protes seorang diri di depan gedung kantor Tian Yu. Dua satpam mengusir Ba Hu agar menjauh dari situ. Lalu datang Yun Chao dan ia menyilakan Ba Hu masuk dan berbicara dengannya.
Yun Chao sudah memberikan batas pemindahan, dan hari ini adalah hari terakhir.
Tiba-tiba Yong Yong menyambar masuk tanpa permisi ke dalam ruangan Yun Chao. Ia menagih janji Yun Chao.
Yun Chao mengatakan, mesin penghancur hanya masuk dan akan menunggu perintahnya selanjutnya.
Yong Yong meminta satu kelonggaran lagi. Dalam satu minggu ini ia akan mencari jalan kelaur mengenai permasalahan panti asuhan. Yun Chao menyetujuinya. Hanya satu minggu. Satu minggu kemudian, ia harus melihat panti asuhannya sudah dalam keadaan kosong.

Mereka hanya diberikan satu minggu untuk berkemas-kemas.
Yong Yong marah pada ibu asrama karena tidak memberitahukan batas akhir pemindahan. Meskipun ia tidak tinggal lagi di panti, apapun masalah yang terjadi di panti entah itu besar ataupun kecil akan tetap menjadi masalahnya juga.
“Kalau saja kemarin bukan gara-gara Xiang Yun Jie,” geram Yong Yong sembari menggerutu.
“Xiang Yun Jie? Kakaknya Xiang Yun Chao?” tanya Ba Hu.
Yong Yong mengatakan iya.
“Kemarin kau bersama Xiang Yun Jie?” tanya Ba Hu lagi.
Yong Yong mengangguk iya.
“Kalian berteman?” Ba Hu bertanya lagi.
“Teman?” Yong Yong berpikir.
Ba Hu mengusulkan jika berteman harusnya Yong Yong bisa membujuk temannya itu untuk melepaskan panti asuhan.
Kemudian, setan dan malaikat dalam diri Yong Yong keluar.
Malaikat Yong Yong berkata, “Aku sudah membantunya banyak. Membantu menemukan anaknya. Membantu mereka agar bisa bertemu. Bahkan aku sampai kehilangan pekerjaanku. Aku juga menjagakan dia semalaman.”
Setan Yong Yong tak kalah mengompori, “Kau ini memang bodoh. Harusnya kau bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk minta mengembalikan panti suhan.”
“Tapi sepertinya tidak mungkin.”
“Tidak mungkin apanya?”
“Mereka ayah dan anak saling mengenal, itu hal yang sangat baik. Dan hari itu Xiao Nian sangat gembira. Lagipula aku membantunya sama sekali tidak pernah berpikir untuk menukarnya dengan sesuatu. Masalah panti asuhan aku bisa mengandalkan diriku sendiri.”
Setan Yong Yong mulai kesal pada malaikat Yong Yong yang mulai berbelas kasihan pada Yun Jie. Malaikat Yong Yong pun dengan mata berbinar senang menceritakan tentang Yun Jie.
“Aku tahu… aku tahu… kau menyukainya,” goda setan Yong Yong.
“Aku!? Mana mungkin aku menyukai orang sepertinya,” malaikat Yong Yong mengelak.
Ba Hu menyadarkan Yong Yong dari lamunannya.
Yong Yong berkata tadi ia hanya mendengarkan suara hatinya. Mana mungkin ia berteman dengan Xiang Yun Jie.
Ibu asrama mengatakan ada seseorang yang bisa membantu mereka. Orang itu bersedia berunding dengan mereka. Orang itu adalah seorang Bos pemilik hotel terkenal. Ibu asrama meminta Yong Yong untuk mewakilkannya untuk berunding.
Tentu saja Yong Yong bersedia membantu dengan senang hati.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar